Lantangnews.com -- Meskipun musim Pemilu 2014 masih cukup lama namun
nuansa hingar bingarnya sudah cukup hangat, padahal saat ini baru tiba musim
pendaftaran partai politik, namun segenap partai politik sudah mulai
pasang kuda-kuda. Tak kurang lembaga survey pun
mulai ikut terlibat bermain,bahkan sudah ada yang mulai menabuh genderang
perang klaim prediksi pencapain perolehan suara segala.
Perang klaim atau kalau bisa dikatagorikan sebagai
agitasi phsicologis untuk menekan mental kontestan lawan sudah mulai berdentang
keras untuk menghipnotis kontituen.Maka wajar jika beberapa Lembaga Survei ada
yang sudah mulai terang terangan mengapresiasai keadaan masa lalu dikondisikan
untuk pijakan kemenangan yang akan datang,kondisi ini tak ubahya seperti adu
ketangkasan dalam suatu perlombaan namun semrawut seperti tidak ada aturan
beretika politik .
Survei tersebut disinyalir ada upaya penggiringan opini yang tidak sehat oleh lembaga survei tertentu untuk mendegradasi parpol Islam serta membuktikan bahwa lembaga survei adalah coorporate yang memiliki kepentingan ekonomis.
Yang paling nyata terlihat yakni LSI secara terang
terangan mengeluarkan statmen politik , Partai dengan massa Islam dinilai
semakin terancam kehilangan pendukung. Popularitas dan elektabilitas mereka
diprediksi akan semakin melorot jika Pemilu Legislatif diselenggarakan saat
ini.Lingkaran Survei Indonesia (LSI) berani memprediksi lima besar parpol yang
akan mendominasi adalah partai nasionalis. Menurut LSI berdasarkan data-data
sebelumnya, pada Pemilu 1955 parpol Islam memperoleh 43,7 persen. Pada 1999
menurun menjadi 36,8 persen. Pada Pemilu 2004 suara partai Islam menurun lagi
menjadi 36,1 persen. Pada 2009 suara parpol Islam semakin melorot menjadi 23,1
persen. Jika saat ini digelar Pemilu maka perolehan suara Parpol Islam hanya
21,1 persen. Dalam statmennya menyatakan Partai Islam punya kecenderungan turun
dari masa ke masa, 14/10)Republika.
Betulkah Partai Islam mulai kehilangan pamornya? Tentu
tidak sesederhana itu ,tidak ada angin tidak ada hujan ,lembaga survei (LSI)
membuat statmen yang bernada vonis yang mengatakan bahwa partai islam mulai
kehilangan pendukungnya alias melorot.Hanya dengan dasar survey yang dilakukan.
Kontan banyak tanggapan yang langsung membantah hasil survey ini diantaranya
dari Ketua DPP PKB, Marwan Ja’far, menilai survei Lingkaran Survei Indonesia
(LSI) tidak objektif terkait semakin melorotnya perolehan suara parpol Islam.
Menurutnya, survei tersebut tidak melihat langsung kondisi sesungguhnya
parpol-parpol Islam.
Bahkan menurut Marwan “Survei itu patut
dipertanyakan,” Ahad (14/10) Republika. Menurutnya kondisi sesungguhnya parpol
Islam sangat jauh dari hasil penelitian Lingkaran Survei Indonesia. Basis massa
PKB, jelas Marwan, ada di daerah-daerah pedalaman yang tidak terjangkau. Mereka
adalah basis massa ideologis yang setia dengan PKB. Menurutnya tidak benar bila
dikatakan suara parpol Islam semakin menurun.Pihaknya juga menyayangkan survei
tersebut yang mendikotomi parpol Islam dengan nasionalis. “Semua parpol sama,”
jelasnya. Yang harus dilihat saat ini adalah keseriusan partai membela
kepentingan hajat hidup orang banyak.Menurutnya sampai, saat ini, PKB masih
memiliki basis massa yang loyal. “Kami masuk tiga besar pada Pemilu 1999 dan
2004. Pada 2014 kita akan mencapai posisi itu lagi,
Penolakan hasil survei juga datang dari Sekretaris
Jenderal PAN, Taufik Kurniawan, menyatakan Kami memiliki Lembaga Survei
Internal yang menjadi acuan untuk mengevaluasi persiapan partai menghadapi
Pemilu 2014. Survei selain itu hanya dijadikan masukan saja .”Namanya demokrasi
siapa saja boleh menyampaikan prediksi apapun. Kita apresiasi,” jelas Taufik,
Ahad (14/10) Republika Untuk PAN, sejak bergulirnya survei, pihaknya lebih mengaktualisasi
survei internal. “Masyarakat tahu independensi survei, darimana sumber
pembiayaannya,” papar Taufik.
Dengan demikian indikasi penolakan survei ini sudah
mengarah kepada etika berpolitik,meskipun ini secara demokrasi adalah sah sah
saja.Mencermati fenomena ini kita hanya bisa berharap agar kedepanya ada
semacam regulasi yang dapat mengatur legalisasi Lembaga survei apakah tetap
dibolehkan memberikan sikap politik seperti itu. Merespon hasil survey LSI
tersebut muncul keprihatiann untuk mensikapinya ,kita berharap agar jangan
sampai survei ditunggangi oleh kepentingan tertentu.Bagaimanapun ,Survei harus
tetap independen, karena akan menjadi acuan.
Yang perlu kita garis bawahi himbauan dari Sekretaris
Jenderal PAN agar “ jangan sampai survei ditunggangi oleh kepentingan tertentu”
(14/10) Republika.
Kita sedikit waswas jika perang survei ini tetap
dibolehkan akan mengkhawatirkan hasil keobyektifitasannya karena ditakutkan
akan terjebak perilaku rekaya abs sebagai konsekwensi by order yang akan menjauhkan
sikap empati masyarakat,pada gilirannya akan merugikan kondite lembaga
tersebut.
Yang kini menjadi persoalan justru keberadaan dari
lembaga survey ini dalam kedudukannya sebagia lembaga yang netral Independen
atau merupakan under brow milik suatu partai politik tertentu. Selanjutnya jika
keberadaannya sebagi Lembaga Independen tentu juga harus ada UU yang
memayunginya sebagai kekuatan landasan kerjanya sebagai pegangan beretika
politik tidak asal wakwek sesuka hati.
Dalam masyarakat patrilinealistik ini suatu opini
publik sangat berpengaruh berpotensi menjadi pedoman di masyarakat.Sehingga
kalo tidak ada aturan yang mengontrol lembaga pembuat opini publik ini akan
dimungkinkan berakibat suasana yang tidak kondusif di masyarakat.Tanggung jawab
ilmiah akan menjadi hal yang selalu dijunjung tinggi sehingga tidak sekedar
berpendapat untuk memuaskan pemesan tapi justru merugikan yang lain.Karena
hasil survei pun jika menghasilkan penilaian yang bernada subyektif tentu akan
mengarahkan penciptaan stigma kepada publik tentu sama saja dengan menebar
jaring agar brand image dari suatu obyek yang diteliti menjadi lebih
terkontrol.Kalo dicermati kiranya ada aroma imperalisme politik oleh Partai
Besar di sisini , nadanya nadanya praktek ini sudah mendekati upaya devide et
impera
Sekali lagi ada benarnya mensikapi bergulirnya Survei
LSI ini secara hati hati kita telah dihimbau agar jangan sampai survei
ditunggangi oleh kepentingan tertentu.
Nah sekarang tentu berpulang kepada publik bagaimana
mensikpinya bagaimanapun dalam proses demokrasi dinamika ini harus dicermati
secara bijak,jangan sampai pemikiran ini justru membuat kita mundur akan seat
back lagi dengan mamasung aktivitas publik berdemokrasi semacam pencerahan
ilmiah dari LSI ini.Sementara itu tanggung jawab Lembaga Survei tentu juga
harus dijunjung tinggi tidak sekedar membuat polling dan survei tapi tanpa ada
upaya kearifan dalam berwacana agar hasilnya selalu menjadi edukasi yang
menyejukan bagi masyarakat bukan sebaliknya hanya sekedar legalisasi pemikiran
yang subyektif sesuai pesanan para ambisiusmen .
Alasan utama yang menjadi dasar nya seperti yang
dikemukakan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menyatakan ada sejumlah penyebab
melorotnya dukungan masyarakat terhadap parpol dan tokoh Islam. Penyebab
tersebut di antaranya adalah semakin kentalnya fenomena ‘Islam yes’ dan partai
‘Islam no’ kalai ini meraupakan alasan konvensional,namun apakah LSI sudah
melihat perkembangan yang baru dengan semangat ghirah islam? ini perlu
dipertajam lagi.
“Mayoritas muslim tak ingin politik nasional beraroma agama,” jelas Peneliti LSI, Adjie Alfaraby, di Jakarta, Ahad (14/10) Republika. Sebesar 67,8 persen pemilih muslim memilih partai nasionalis dibanding partai Islam. ini pendapat yang terlalu berani,apakah sirvei ini sudah merata pengambilan sampling nya ini perlu dipertanyakan .
Menurutnya, Ini adalah fenomena menarik. “Penduduk kita mayoritas Islam namun partai Islam bukan jadi pilihan utama untuk menyalurkan aspirasi politiknya,.Ini sangat subyektif sekali,ada semacam daya gali yang dipaksakan agar seseorang muslim tidak menyukai parte islam. Justru informasi seperti ini yang masih meragukam karena kondisi ini harus dilihat samplingnya…sangat relatif,
Pendanaan politik partai nasionalis lebih kuat
dari partai Islam. Pendanaan yang lebih siap ini memungkinkan partai nasionalis
lebih siap dalam membangun image partai. Nah kala masalah pendanaan
memang partai Nasionalis tentu lebih kuat buktinya jelas bisa
menyewa Lembaga survai manapun sebanyak banyaknya untuk pembuatan opini
publik dan penggiringan massa,contohnya bisa membiayai survei LSI ini ,
sayang statment ini berkesan menggiring publik untuk menyimpulkan kalau
ingin jadi partai besar haruslah perlu banyak dana besar sehingga bisa
melakukan kegiatan pembanguan image.Ini suatu bukti managemen partai sudah
dikelola seperti lembaga komersil menurut Sekjen PKB “Lembaga survei sudah
seperti perusahaan. Kalau itu berarti siapa yang invest, ada nilai ekonomis,
dan wajar siapa yang dinaikan. Ini mendegradasi para peneliti sendiri. Sisi
metodologi tidak pernah dijelasin,” Senin (15/10/2012)oke zone
Selain itu, tindakan brutal yang mengatasnamakan Islam
oleh kelompok-kelompok tertentu membawa dampak pada munculnya kecemasan
kolektif masyarakat Indonesia pada umumnya terhadap parpol Islam. Sejumlah 46,1
persen publik percaya bahwa merosotnya Partai Islam disebabkan perilaku brutal
oknum yang memmbawa label Islam untuk alasan yang satu ini sangat kurang
relevan dan terlalu mengada ada,tidak melihat Islam yng mana yang dimaksud di
PKB santun tidak ada kebrutalan, PAN dan PKS,PPP juga tidak ada yang mengarah
ke kesimpulan ini,menurut hemat kami terlalu ceroboh sama dengan memberikan
stigma buruk pada partai islam di indonesia , selama ini tidak ada partai islam
yang beperilaku brutal seperti yang LSI tuduhkan.Jangan jangan LSI mencampur
adukkan antara stigma ormas yang sering dinilai keras dengan Seluruh Partai
Islam ini sangat ceroboh suatu kesimpulan yang sangat keliru . Tidak ada
hubunganya antara ormas anarkhi dengan partai islam..justru semua partai
islam tidak sependapat dengan ulah ormas yang menununkan citra Islam,Bantahan
yang lebih tegas oleh Sekjen PKB,”Soal kategori saja salah. Kami
bukan partai Islam, kami kategorinya Pancasila, kita nasionalis,” kata Marwan
kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (15/10/2012)okezone
Selain itu, LSI menilai partai nasionalis semakin akomodatif terhadap
kepentingan kelompok Islam. Sudah muncul struktur partai mengakomodasi
kepentingan Islam, seperti PDIP dengan Baitul Muslimin. Sejumlah 57,8 persen
publik percaya bahwa partai nasionalis mengakomodasi kepentingan kelompok
Islam. Nah yang point terakhir inilah sebetulnya yang ingin LSI tonjolkan bahwa
makin akomadtifnya partai nasional terhadap aspirasi islam hanya cukup dengan
menunjukkan wadahnya,bukan menunjukkan bukti prestasi jasa jasanya terhadap
ummat.Apakah LSI berani tunjukkan sikap perjuangan partai Nasionalis yang
berpestasi terhadap ummat? inilah yang mestinya LSI angkat …kalau memang Partai
Nasionalis Telah berjasa kepada ummat… ***
http://politik.kompasiana.com/2012/10/15/menggugat-survei-lsi-partai-islam-semakin-melorot-yang-dinilai-tidak-objektif/50132
