Lantangnews.com -- Berbagai lembaga survei bayaran memprediksi nasib partai Islam dan
partai berbasis massa Islam (PKS, PPP, PBB, PAN dan PKB) serta Capres
partai Islam akan sangat mengenaskan pada pemilu 2014 nanti. Partai
Islam akan terpuruk apalagi jika partai Islam bergabung untuk memiliki
Capres dan Cawapres sendiri, dipastikan akan kalah dalam Pilpres.
Sementara partai sekuler (PD, PDIP, Golkar, Hanura dan Gerindra) dan
Capres partai sekuler akan berjaya dan berhasil memenangkan kursi RI-1
dan RI-2.
Namun prediksi lembaga survei bayaran itu dibantah keras Ketua Umum DPP Partai Bulan Bintang (PBB) Dr. H. MS Kaban, M.Si. Menurutnya, justru partai Islam akan berjaya dan memiliki masa depan cerah sebagaimana partai politik Islam di Timur Tengah pasca Arab Springs, sedangkan nasib partai sekuler justru akan terpuruk atau nyungsep sebagaimana nasib partai sekuler di Timur Tengah sekarang ini.
Berikut ini wawancara Tabloid Suara Islam dengan Dr. H. MS. Kaban, M.Si seputar masa depan partai Islam atau berbasis massa Islam serta partai sekuler dalam percaturan politik di Indonesia.
Suara Islam: Hasil Survei LSI menyebutkan, partai Islam termasuk partai berbasis massa Islam dan Capres partai Islam akan habis pada pemilu 2014. Bagaimana komentar Anda ?
MS. Kaban: Hasil survei hanya sebuah informasi data, semua hasil survei by-design dan by-order serta tergantung pada pemesannya. Prospek partai Islam tidak tergantung hasil survei, sebab para surveyor tidak pernah membantu partai Islam. Prospek partai Islam di Indonesia sangat ditentukan banyak faktor, sebab partai Islam berbeda dengan partai lain, karena partai Islam secara politik belum pernah berkuasa di Indonesia sejak zaman kemerdekaan, Orla, Orba hingga reformasi.
Jadi partai Islam masih dalam proses meyakinkan masyarakat yang sudah puluhan tahun mindset-nya tidak merujuk kepada partai-partai Islam.
Jadi
partai Islam memiliki kerja keras dan berat ditengah-tengah masyarakat
yang pragmatis, tidak memiliki media Islam untuk menyuarakan aspirasi
politiknya serta prestasi partai Islam belum mendapat apresiasi dari
masyarakat. Namun saya tetap optimis, masa depan parpol Islam akan
cerah. Namun prediksi lembaga survei bayaran itu dibantah keras Ketua Umum DPP Partai Bulan Bintang (PBB) Dr. H. MS Kaban, M.Si. Menurutnya, justru partai Islam akan berjaya dan memiliki masa depan cerah sebagaimana partai politik Islam di Timur Tengah pasca Arab Springs, sedangkan nasib partai sekuler justru akan terpuruk atau nyungsep sebagaimana nasib partai sekuler di Timur Tengah sekarang ini.
Berikut ini wawancara Tabloid Suara Islam dengan Dr. H. MS. Kaban, M.Si seputar masa depan partai Islam atau berbasis massa Islam serta partai sekuler dalam percaturan politik di Indonesia.
Suara Islam: Hasil Survei LSI menyebutkan, partai Islam termasuk partai berbasis massa Islam dan Capres partai Islam akan habis pada pemilu 2014. Bagaimana komentar Anda ?
MS. Kaban: Hasil survei hanya sebuah informasi data, semua hasil survei by-design dan by-order serta tergantung pada pemesannya. Prospek partai Islam tidak tergantung hasil survei, sebab para surveyor tidak pernah membantu partai Islam. Prospek partai Islam di Indonesia sangat ditentukan banyak faktor, sebab partai Islam berbeda dengan partai lain, karena partai Islam secara politik belum pernah berkuasa di Indonesia sejak zaman kemerdekaan, Orla, Orba hingga reformasi.
Jadi partai Islam masih dalam proses meyakinkan masyarakat yang sudah puluhan tahun mindset-nya tidak merujuk kepada partai-partai Islam.
Suara Islam: Sejak pemilu era reformasi, perolehan suara partai Islam terus merosot. Bagaimana komentar Anda ?
MS. Kaban: Saya kira penurunan suara partai Islam dan berbasis massa Islam tidaklah terlalu besar. Standarnya jelas karena kekuatan politik Islam belum pernah memenangkan pemilu termasuk pemilu 1955. Dalam sejarah pemilu di Indonesia, parpol Islam belum pernah menang. Kalau PPP merupakan representasi kekuatan politik Islam di zaman Orba, maka suaranya tidak sampai 20 persen pada setiap pemilu. Di era reformasi, suara beberapa partai Islam kalau digabungkan mendekati 40 persen, atau hampir sama dengan pemilu 1955 yang mencapai 47 persen. Pada pemilu 2009, terjadi penurunan suara karena akumulasi dan selisihnya hanya 6-8 persen.
Bandingkan dengan Golkar yang pernah mengantongi suara 73 persen pada pemilu zaman Orba dan sekarang langsung nyungsep menjadi dibawah 25 persen, sementara PDIP yang pernah memperoleh 30 persen langsung nyungsep dibawah 20 persen. Mengapa prospek kedua partai itu tidak dibilang suram? Sedangkan PD yang pada pemilu 2009 lalu memperoleh 21 persen dan diprediksi pada pemilu 2014 nanti akan nyungsep sehingga tinggal 5 persen, berarti disini ada mindset dalam melihat partai Islam secara phobia, sehingga ada phobia terhadap partai Islam. Bagi saya, masa depan NKRI ada pada partai Islam.
Suara Islam: Partai Islam di Timur Tengah pasca Arab Springs sama menang dalam pemilu seperti Mesir, Tunisia dan Maroko. Kalau masa depan partai Islam di Indonesia seperti Timur Tengah, bagaimana syaratnya ?
MS. Kaban: Sejak merdeka tahun 1945, waktu itu yang dominan PNI dan akhirnya nyungsep, kemudian digantikan Golkar yang sempat berkuasa hampir 30 tahun dan akhirnya juga nyungsep. Sekarang digantikan PD dan belum genap 10 tahun sudah terlihat goyah.
Artinya, untuk mengatasi masalah ini, saya optimis parpol Islam akan memberikan solusi terhadap berbagai persoalan bangsa dan negara. Sebab perjuangan parpol sekuler yang mengedepankan pragmatisme dan kapitalisme, ternyata tidak memberikan jawaban. Jadi trend yang terjadi di Timur Tengah pasca Arab Springs, maka cepat atau lambat akan berpengaruh di Indonesia.
Suara Islam: Kalau dikatakan partai Islam dan tokoh Islam tidak nasionalis, bagaimana komentar Anda ?
MS. Kaban: Partai Islam tidak pernah mendikotomikan nasionalis dan tidak nasionalis, kita tidak ingin mendikotomikan itu. Tetapi yang jelas, partai Islam itu basic filosofi perjuangan dan program-programnya serta gerakannya selalu bertitik tolak dari nilai-nilai Islami untuk kepentingan nasional, bangsa dan negara.
Kalau dalam pemilu orang cenderung memilih Golkar dan PD, silahkan saja. Artinya, partai Islam belum mampu meyakinkan masyarakatnya dan mungkin pemilih Indonesia belum tertarik untuk memilihnya. Kalau parpol Islam pendanaannya belum kuat dan para tokohnya belum memiliki jaringan yang kuat dengan para ulama, habaib, ustadz dan gerakan Islam lain, itu bisa saja terjadi.
Suara Islam: Apakah kemunduran partai Islam dalam setiap pemilu dikarenakan partai sekuler memiliki program Islami seperti Baitul Muslimin (PDIP) dan Majelis Zikir SBY (PD) ?
MS. Kaban: Saya kira masing-masing mempunyai pilihan. Kalau misalnya PDIP mempunyai Baitul Muslimin, itu berarti PDIP tidak mau dikatakan sebagai partai yang tidak membela Islam. Demikian pula PD dengan Majelis Dzikir SBY, supaya tidak dikatakan PD tidak membela Islam. Masyarakat nantinya yang akan meberikan penilaian serta tergantung dari berbagai program dan aksinya. Seperti ketika menang pemilu dan berkuasa, apakah berbagai kebijakannya akan lebih membangkitkan kekuatan umat Islam atau tidak. Kalau ternyata tidak ada kebijakan yang mengangkat Izzah (kemuliaan) Islam, maka umat Islam akan memberikan penilaiannya tersendiri.
Suara Islam: Nurkholish Majid pernah melontarkan slogan “Islam yes, partai Islam no”. Apakah slogan itu berperan dalam menjatuhkan partai-partai Islam ?
MS. Kaban: Memang sebagian masyarakat kita terpola dan terpengaruh dengan pemikiran seperti itu, pemikiran yang sangat sekularistik, dengan mendikotomi antara Islam dan politik. Tetapi setelah berjalan, nantinya masyarakat akan memberikan penilaian tersendiri. Partai Islam harus mampu meyakinkan masyarakat dan konstituennya agar tetap memilihnya. Sebab Islam dan politik tidak bisa dipisahkan, karena Islam pada dasarnya mencakup seluruh aspek kehidupan dan kembali pada apa yang diajarkan oleh Islam itu sendiri. Jadi memeluk Islam secara kaffah (total) dengan membangun negara secara kuat dalam suasana damai dan rakyatnya hidup makmur, itulah perjuangan Islam. Segala sumber inspirasi perjuangan Islam berasal dari Al Qur’an dan itu yang membedakannya. Jadi kalau mereka ingin memakmurkan bangsa dengan pemikiran sekuler, maka kita ingin memakmurkan masyarakat yang bersumberkan inspirasi Al Qur’an.
Suara Islam: Sebagai Ketua Umum DPP PBB, jika partai lolos ikut pemilu 2014 dan masuk Parlemen, apakah tetap konsisten memperjuangkan tegaknya Syariat Islam di Indonesia ?
MS. Kaban: Bagi kita Islam sebuah kewajiban bagi negara. Karena negara kita berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, bagi PBB artinya negara ini harus dijalankan dengan mengikuti hukum-hukum Allah SWT. Jadi seluruh peraturan perundang-undangan dan sistem yang dibangun jangan bertentangan dengan hukum Allah SWT, itu prinsip PBB. Karena itu UUD 1945 dikatakan negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa yakni Tauhid. Artinya, bagi PBB untuk membangun negara dan mensejahterakan serta memakmurkan bangsa Indonesia, dan untuk membuat ideologi yang kuat di negara ini, maka tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai Ketuhanan YME.
Suara Islam: Apakah pada Pilpres nanti, partai Islam perlu memiliki Capres dan Cawapres tersendiri ?
MS. Kaban: Dalam memilih Presiden, kita harus memilih satu figur yang terbaik dan sesuai dengan kebutuhan zaman. Bagi PBB, syarat mutlak seorang Capres adalah ketaatannya dan komitmennya terhadap nilai-nilai Illahiyah dan nilai-nilai Islam. Bagi PBB, seorang pemimpin wajib beragama Islam, serta memiliki ketaatan dan komitmen terhadap nilai-nilai Islam serta mampu mengayomi seluruh rakyat Indonesia.
Kalau dari kita ada figur, maka wajar kalau kita tawarkan kepada parpol lainnya. Tetapi kalau ada figur yang lebih cerdas, taat, patuh, berani dan bisa menyelesaikan masalah, maka saya fikir wajar saja dan kita terbuka. Idealnya partai Islam bersatu dalam memilih Capres untuk melahirkan satu figur. Tetapi bagi saya, siapapun asal beragama Islam, rajin dan taat beribadah, visi dan misi keIslamannya jelas, memiliki komitmen terhadap Islam, ingin membangun bangsa dengan prinsip-prinsip Islam; maka akan kita dukung. Paling tidak tawaran kita adalah Capres yang bersedia merevisi KUH Pidana peninggalan kolonial Belanda dengan KUH Pidana nasional yang bermuatan nilai-nilai Islam.
Seorang Presiden RI harus mampu membuat Indonesia menjadi negara kuat dan berani membuat kapal induk untuk menjaga keamanan perairan Indonesia dari gangguan kekuatan asing. Kalau Pakistan sudah memiliki senjata nuklir dan Iran sedang dicurigai ingin memiliki senjata nuklir, maka Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia sudah waktunya memiliki kapal induk bertenaga nuklir. PBB akan mencari Presiden RI yang siap membangun kapal induk bertenaga nuklir untuk menjaga keamanan wilayah Nusantara. Sehingga untuk mewujudkannya, kita harus memiliki industri yang kuat jika ingin membangun kapal induk yang seratus persen dibuat putra-putra terbaik bangsa Indonesia.? (Abdul Halim/SI-Online/lantangnews)
