Oleh: Drs. Muhsin MK. MSc.
(Anggota Majlis Syuro Dewan Da’wah Jawa Barat)
(Anggota Majlis Syuro Dewan Da’wah Jawa Barat)
“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang amat besar”. [QS. Fathir, 35:32].
Kisah Yusuf ini diabadikan dalam firman Allah: “Dan raja berkata: ‘Bawalah Yusuf kepadaKu, agar aku memilih Dia sebagai orang yang rapat kepadaku’. Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: ‘Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami’. Berkata Yusuf: ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan’. Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh)…”. [QS. Yusu, 12: 53-55].
Ujian Tahta
Ternyata tahta itu juga merupakan ujian dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, apakah manusia yang memiliki kedudukan dan jabatan mampu melalui ujian yang datang menimpanya. Diantara yang diuji itu ada yang mampu melewati ujian dengan baik, ada yang setengah mampu dan ada yang sama sekali tidak mampu menghadapi ujian tersebut.
Orang yang tidak mampu menerima ujian tahta, malah dengan tahtanya menjadi lupa diri dan berbuat aniaya terhadap diri mereka sendiri dan bahkan terhadap orang lain. Contoh dari type ini diantaranya Fir’aun, Raja Mesir, pada jaman Nabi Musa ‘alaihis salam. Fir’aun yang telah diberikan tahta yang sedemikian tinggi oleh Allah Subahanahu Wa Ta’ala, tapi justru kedudukan dan jabatannya itu telah digunakannya untuk melakukan kezhaliman, bukan hanya menganiaya diri sendiri, melainkan juga membunuh rakyatnya yang tidak berdosa.
Kisah Fir’aun ini disebutkan antara lain dalam firman Allah: “Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan”. [QS. Al Qashshas, 28:4].
Kemudian, ada pula orang yang setengah mampu menerima ujian tahta, antara lain dengan tahtanya dia cenderung bahkan mengajak orang lain melakukan perbuatan syirk dan dosa, namun dia juga senantiasa berbuat baik dan tidak zhalim terhadap rakyatnya, bahkan negerinya sedemikian makmur. Contoh type ini dalam sejarah adalah, Balqis, Ratu dari Negeri Saba’ di daerah Yaman, yang disebutkan dalam firman Allah:
“Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata [kepada Sulaiman]: ‘Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita [Ratu Balqis] yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu [kemakmuran], serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk”. [QS. An Naml, 27:22-24].
Ternyata tahta itu juga merupakan ujian dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, apakah manusia yang memiliki kedudukan dan jabatan mampu melalui ujian yang datang menimpanya. Diantara yang diuji itu ada yang mampu melewati ujian dengan baik, ada yang setengah mampu dan ada yang sama sekali tidak mampu menghadapi ujian tersebut.
Orang yang tidak mampu menerima ujian tahta, malah dengan tahtanya menjadi lupa diri dan berbuat aniaya terhadap diri mereka sendiri dan bahkan terhadap orang lain. Contoh dari type ini diantaranya Fir’aun, Raja Mesir, pada jaman Nabi Musa ‘alaihis salam. Fir’aun yang telah diberikan tahta yang sedemikian tinggi oleh Allah Subahanahu Wa Ta’ala, tapi justru kedudukan dan jabatannya itu telah digunakannya untuk melakukan kezhaliman, bukan hanya menganiaya diri sendiri, melainkan juga membunuh rakyatnya yang tidak berdosa.
Kisah Fir’aun ini disebutkan antara lain dalam firman Allah: “Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan”. [QS. Al Qashshas, 28:4].
Kemudian, ada pula orang yang setengah mampu menerima ujian tahta, antara lain dengan tahtanya dia cenderung bahkan mengajak orang lain melakukan perbuatan syirk dan dosa, namun dia juga senantiasa berbuat baik dan tidak zhalim terhadap rakyatnya, bahkan negerinya sedemikian makmur. Contoh type ini dalam sejarah adalah, Balqis, Ratu dari Negeri Saba’ di daerah Yaman, yang disebutkan dalam firman Allah:
“Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata [kepada Sulaiman]: ‘Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita [Ratu Balqis] yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu [kemakmuran], serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk”. [QS. An Naml, 27:22-24].
Tahta Rasulullah
Ternyata ada juga yang mampu dan berhasil dalam menerima ujian tahta, antara lain dia pergunakan kedudukan dan jabatannya itu untuk menegakkan agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala, membangun masyarakat yang adil dan makmur, mencegah tindakan dan perbuatan zhalim, keji dan munkar. Contoh type ini adalah: Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam.
Pada saat memiliki kedudukan dan jabatan sebagai Rasulullah sekaligus menjadi Kepala Pemerintahan di wilayah jazirah Arabia, dia tidak pernah sedikit pun melakukan kezhaliman pada rakyatnya, dan dia berusaha membawa kemaslahatan dan kemakmuran lahir batin, dunia dan akhirat. Sebagaimana diantaranya dinyatakan dalam firman Allah:
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud[1406]. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”. [QS. Al Fath, 48:29].
Karena itulah ketika para Pemimpin Quraisy menawarkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘aakaihi wassalam dengan tahta [kedudukan atau jabatan yang tinggi] dalam masyarakat, harta yang berlimpah, dan wanita yang tercantik asal menghentikan da’wahnya, namun Beliau tidak bergeming sedikit pun untuk menghentikan aktifitas sucinya itu dalam masyarakat Kota Mekah, malah akan tetap melakukannya.
Bahkan ketika itu Beliau dengan tegas menjawab tawaran itu dengan kata kata yang tegas: “Andaikan matahari diletakkan di pundak sebelah kananku dan bulan diletakkan di pundak sebelah
kiriku, aku tidak akan sedikitpun menghentikan da’wah”.
Siapa yang mampu menjalani ujian tahta, kedudukan dan jabatan, dia akan memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat, sebagaimana yang dialami oleh para Nabi dan Rasulullah, diantaranya yang juga menjadi Kepala Pemerintahan, seperti Nabi Yusuf, Daud, Sulaiman ‘alaihis salam dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wassaalam.
Sebab mereka benar benar menggunakan tahtanya untuk melaksanakan ajaran dan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, serta menjauhkan larangan larangan Nya. Sebagaimana firman Allah: “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah”. [QS. Al Ambiyaa’, 21:73]
Ternyata ada juga yang mampu dan berhasil dalam menerima ujian tahta, antara lain dia pergunakan kedudukan dan jabatannya itu untuk menegakkan agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala, membangun masyarakat yang adil dan makmur, mencegah tindakan dan perbuatan zhalim, keji dan munkar. Contoh type ini adalah: Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam.
Pada saat memiliki kedudukan dan jabatan sebagai Rasulullah sekaligus menjadi Kepala Pemerintahan di wilayah jazirah Arabia, dia tidak pernah sedikit pun melakukan kezhaliman pada rakyatnya, dan dia berusaha membawa kemaslahatan dan kemakmuran lahir batin, dunia dan akhirat. Sebagaimana diantaranya dinyatakan dalam firman Allah:
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud[1406]. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”. [QS. Al Fath, 48:29].
Karena itulah ketika para Pemimpin Quraisy menawarkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘aakaihi wassalam dengan tahta [kedudukan atau jabatan yang tinggi] dalam masyarakat, harta yang berlimpah, dan wanita yang tercantik asal menghentikan da’wahnya, namun Beliau tidak bergeming sedikit pun untuk menghentikan aktifitas sucinya itu dalam masyarakat Kota Mekah, malah akan tetap melakukannya.
Bahkan ketika itu Beliau dengan tegas menjawab tawaran itu dengan kata kata yang tegas: “Andaikan matahari diletakkan di pundak sebelah kananku dan bulan diletakkan di pundak sebelah
kiriku, aku tidak akan sedikitpun menghentikan da’wah”.
Siapa yang mampu menjalani ujian tahta, kedudukan dan jabatan, dia akan memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat, sebagaimana yang dialami oleh para Nabi dan Rasulullah, diantaranya yang juga menjadi Kepala Pemerintahan, seperti Nabi Yusuf, Daud, Sulaiman ‘alaihis salam dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wassaalam.
Sebab mereka benar benar menggunakan tahtanya untuk melaksanakan ajaran dan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, serta menjauhkan larangan larangan Nya. Sebagaimana firman Allah: “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah”. [QS. Al Ambiyaa’, 21:73]
Akibat Tahta
Sebaliknya siapa yang tidak mampu menerima ujian, malah tergelincir dengan tahtanya itu, dia melakukan perbuatan dosa, syirk, zhalim, maksiyat, keji dan munkar, maka bukan saja dia akan mendapat adzab di dunia ini, melainkan juga siksaan api neraka di alam akhirat. Fir’aun di adzab oleh Allah Subahanahu Wa Ta’ala, dengan ditenggelamkan dalam laut, dan jenazahnya hingga kini masih ada sebagai saksi dan pelajaran bagi para pemegang tahta, kedudukan dan jabatan pada masa sekarang ini. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:
“Maka Kami hukumlah Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim. Dan Kami ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini; dan pada hari kiamat mereka Termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah). [QS. Al Qashshas, 28:40-41]
“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu [mayat Fir’aun] supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan Sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami”. [QS. Yunus, 10:91]
Pada jaman sekarang ini tahta, jika tidak bisa menahan ujian dan godaan, malah dapat membuat hidup kita menderita, bukan hanya kedudukan dan jabatan itu akan lepas dan dicopot, melainkan juga dapat menjebloskannya dalam penjara. Hal ini bisa terjadi manakala tahta, kedudukan dan jabatan itu dipergunakan untuk melakukan kemunkaran dan kemaksiatan, seperti tindakan antara lain: korupsi, narkoba dan pornografi, termasuk masalah penyimpangan seks dan perselingkuhan.
Berapa banyak pejabat public di negeri ini yang tersandung kasus tersebut, kemudian dia mendapat adzab di dunia, berupa proses sidang di pengadilan yang makan waktu, enerzi dan umur, lalu dicopot jabatannya, dan setelah di vonis sekian tahun, lalu dipenjarakan.
Keadaan seperti itu bukan hanya dirinya yang malu dan akan jatuh kemuliaannya, melainkan juga keluarga dan kelompok pendukung fanatiknya. Citra kantor, organisasi dan partainya menjadi rusak. Masuk penjara akan membuat kebebasan menjadi terbelenggu, jauh dari kehidupan keluarga dan masyarakat, sehingga hidupnya terkucilkan. Sesudah keluar penjara, citranya sebagai bekas nara pidana kasus moral dan criminal itu pun melekat pada dirinya, sehingga dapat mengurangi keperacayaan orang lain dan masyarakat dalam melakukan kerja sama. Bahkan kesempatan untuk kembali memangku jabatan yang sama sangatlah kecil sekali, karena besarnya pengaruh perbuatan dosa yang dilakukan sebelumnya.
Karena itu jauhkan tahta dari perbuatan maksiyat, munkar, syirk, dzalim dan kepentingan sempit kelompoknya saja, tapi gunakanlah jabatan dan kedudukan itu untuk benar benar melayanya dan memberikan kemaslahatan, kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh ummat dan masyarakat yang menjadi tanggung jawabnya dan berada di bawah kekuasannya. Selamat berjuang dan melaksanakan tugas dengan baik bagi Gunernur dan Wakil Gubernur yang baru terpilih, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan keridhoan dan pertolongan-Nya. Amien. (5 Maret 2013).
Sebaliknya siapa yang tidak mampu menerima ujian, malah tergelincir dengan tahtanya itu, dia melakukan perbuatan dosa, syirk, zhalim, maksiyat, keji dan munkar, maka bukan saja dia akan mendapat adzab di dunia ini, melainkan juga siksaan api neraka di alam akhirat. Fir’aun di adzab oleh Allah Subahanahu Wa Ta’ala, dengan ditenggelamkan dalam laut, dan jenazahnya hingga kini masih ada sebagai saksi dan pelajaran bagi para pemegang tahta, kedudukan dan jabatan pada masa sekarang ini. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:
“Maka Kami hukumlah Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim. Dan Kami ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini; dan pada hari kiamat mereka Termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah). [QS. Al Qashshas, 28:40-41]
“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu [mayat Fir’aun] supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan Sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami”. [QS. Yunus, 10:91]
Pada jaman sekarang ini tahta, jika tidak bisa menahan ujian dan godaan, malah dapat membuat hidup kita menderita, bukan hanya kedudukan dan jabatan itu akan lepas dan dicopot, melainkan juga dapat menjebloskannya dalam penjara. Hal ini bisa terjadi manakala tahta, kedudukan dan jabatan itu dipergunakan untuk melakukan kemunkaran dan kemaksiatan, seperti tindakan antara lain: korupsi, narkoba dan pornografi, termasuk masalah penyimpangan seks dan perselingkuhan.
Berapa banyak pejabat public di negeri ini yang tersandung kasus tersebut, kemudian dia mendapat adzab di dunia, berupa proses sidang di pengadilan yang makan waktu, enerzi dan umur, lalu dicopot jabatannya, dan setelah di vonis sekian tahun, lalu dipenjarakan.
Keadaan seperti itu bukan hanya dirinya yang malu dan akan jatuh kemuliaannya, melainkan juga keluarga dan kelompok pendukung fanatiknya. Citra kantor, organisasi dan partainya menjadi rusak. Masuk penjara akan membuat kebebasan menjadi terbelenggu, jauh dari kehidupan keluarga dan masyarakat, sehingga hidupnya terkucilkan. Sesudah keluar penjara, citranya sebagai bekas nara pidana kasus moral dan criminal itu pun melekat pada dirinya, sehingga dapat mengurangi keperacayaan orang lain dan masyarakat dalam melakukan kerja sama. Bahkan kesempatan untuk kembali memangku jabatan yang sama sangatlah kecil sekali, karena besarnya pengaruh perbuatan dosa yang dilakukan sebelumnya.
Karena itu jauhkan tahta dari perbuatan maksiyat, munkar, syirk, dzalim dan kepentingan sempit kelompoknya saja, tapi gunakanlah jabatan dan kedudukan itu untuk benar benar melayanya dan memberikan kemaslahatan, kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh ummat dan masyarakat yang menjadi tanggung jawabnya dan berada di bawah kekuasannya. Selamat berjuang dan melaksanakan tugas dengan baik bagi Gunernur dan Wakil Gubernur yang baru terpilih, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan keridhoan dan pertolongan-Nya. Amien. (5 Maret 2013).